Udah jalan seminggu saya ga pernah beli lauk di luar. Bukan berarti ga makan, tapi karena seminggu terakhir ini saya menjalankan gerakkan “gemari memasak”. Kegiatan ini tercetus gitu aja, ga pake RG, ga pake ketua panitia, ga ada bendahara, sekertaris, apalagi seksi kebersihan. Makanya, gerakan”Gemari memasak” ini memang sangat ga direncankan. Oke, begitulahhh…
Awalnya, tiba2 di hari minggu pagi, setelah ngiterin gym 3 keliling, dan menempuh perjalanan pulang sejauh 1000 km lebih (lebay…) kita berjalan dengan gontai, ga keliatan tuh tukang sayur. Abis itu, udah nyampe gang kosan, temen saya ngajakin belanja. Hmmm…boleh jga tuh. Nah, dari situ kita puter balik dan mampir di tukang sayur depan studio photo campuss. Iseng2 aja, beli tempe, jagung, wortel, ama cabe, bawang plus tomat. Total belanjaan waktu itu cumin nyampe Rp. 9.500. nah, emang mulai dari situ gairah muda untuk memasak tu muncul. Bukan dari rasa tanggung jawab karena saya anak THP (yang emang kerjaannya berkelut dengan penggorengan), atau dari rasa tanggung jawab kepada diri sendiri untuk menciptakan makanan yang sehat agar membentuk pribadi yang kuat. Bukaaannn…apalagi karena kepingin nambah perbendaharaan resep makanan buat nanti jadi ibu rumah tangga yang baik. Bukan sodara2. Hanya berawal dari iseng.
Hmm…saya emang hobi masak. Tapi kali di rumah aja. Kalo di kosan si ogah dah…laporan aja numpuk, ngapain mempersulit kehidupan ini dengan pusing2 masak??? Tapi suer…setelah ngejalaninya, jadi enjoy bangert.
Hari pertama kegiatan ini dimulai dengan bikin tumis tempe ga keruan (tapi tetep enak). Hingga virus cinta masak ini mewabah di kosan. Sampe kulkas yu pennnuuhhh banget, saking benyaknya plastic item yang isinya sayur2an.
At least, baak banget deh manfaat masak sendiri yang saya rasain;
1. Reduce plastics. Hubungannya dengan masak sendiri?
Gini. Dengan kita masak sendiri, pasti ga beli makan di warung doong (ya elaahhh… ngapain masak kalo tetep muzti beli di warung?//). Nah,..kalo makannya di warung si ga masalah, ga ada plastic makanan yang kita bawa ke kosan yang bakal jadi sampah. Yang jadi masalah itu..kalo makannya di bawa pulang, masi mending kalo disatuin ama nasi. Nah, seringnya kita kan makannya dipisahin. Makin banyak kan, sampah plasticnya? Makin kasian deh bumi kita, sampah plastic seratus taun yang lalu aja masih ada, udah manbah lagi sampah plastic bekas kita makan sayur toge. So, dengan masak sendiri, secara ga langsung kita turut berkontribusi manjaga lingkungan. Kecil kan?
2. Nambah ilmu. Serius deh. Tanya anak gizi apa yang mereka pelajarin kulinari., yang ada ngukus2, goreng2, motong2 bawang, (hihihi…piiiss giziers^^v). nah…kan ga perlu ngambil SC kulinari kalo kita masak sendiri. Palingan nanya2 dikitlaahhh…masak yang bagus tu gmana, jadi deh.
3. Social. Hmmm…rada2 susah nyambunginnya. Cumin, gini deh, kita tug a tau kondisi temen2 di sekitar kita tu gimana. Kali aja ada temen kita yang lagi kepepet mepet akhir bulan dan dia ga mau cerita2 masalahnya. Yaa…walopun sebenernya sama, kita juga lagi seset dang a bisa bantu pake duit, kita bisa bantu dengan berbagi makanan ke temen kita.
4. Kalo temen saya bilang masak sendiri tu bisa buat ngelatih mood, jadi kepuasan tersediri n hobby. How can? Katanya dia lagi, masak tu dengan cinta. Gimana mood. Kalo moodnya lagi bagus, alhasil, masakan kita juga bakalan jadi enak. Kalo moodnya ga bagus, masakan yang kita bikin pasti ga enak. Ga ada taste-nya. Nah..kalo mood kita tiap hari lagi jelekkan ketauan….

hehehe…
gitu aja c,
moga bermanfaat…
^^

2.4 Deskripsi klorin
Klorin merupakan unsur kedua dari keluarga halogen, terletak pada golongan VIII A. Sifat kimia klorin yaitu gas berwarna kehijauan pada suhu kamar, mempunyai titik lebur -101oC dan titik didih -34oC.Seperti halnya unsur kimia lain, sifat kimia klorin ini sangat ditentukan oleh konfigurasi electron pada kulit terluarnya. Terdapat tujuh elekton pada kulit terluar pada klorin, sehingga sifat klorin tidak stabil dan sangat reaktif agar klorin bisa mendapatkan stuktur seperti gas mulia. Selain itu, klorin juga bersifat oksidator. Hal ini terlihat dari kemampuannya untuk mengoksidasi atom-atom besi dan mangan. Seperti oksigen, klorin juga membantu reaksi pembakaran dengan menghasilkan panas dan cahaya. Dalam air laut maupun sungai, klorin akan terhidrolisis membentuk asam hipoklorit. (Edward 1990)
Klor diperoleh dari garam klorida dengan mereaksikan zat oksidator atau lebih sering dengan proses elektrolisis. Merupakan gas berwarna kuning kehijauan dan dapat bersenyawa dengan hampir semua unsur. Pada suhu 10oC, satu volume air dapat melarutkan 3.10 volume klor, sedangkan pada suhu 30oC hanya 1.77 volume. (Anonim 2010)
Klor digunakan secara luas dalam pembuatan banyak produk sehari-hari. Klor digunakan untuk menghasilkan air minum yang aman hampir di seluruh dunia. Bahkan, kemasan air terkecil pun sudah terklorinasi.
Klor juga digunakan secara besar-besaran pada proses pembuatan kertas, zat pewarna, tekstil, produk olahan minyak bumi, obat-obatan, antseptik, insektisida, makanan, pelarut, cat, plastik, dan banyak produk lainnya.
Kebanyakan klor diproduksi untuk digunakan dalam pembuatan senyawa klorin untuk sanitasi, pemutihan kertas, desinfektan, dan proses tekstil. Lebih jauh lagi, klor digunakan untuk pembuatan klorat, kloroform, karbon tetraklorida, dan ekstraksi brom.
Kimia organik sangat membutuhkan klor, baik sebagai zat oksidator maupun sebagai subtitusi, karena banyak sifat yang sesuai dengan yang diharapkan dalam senyawa organik ketika klor mensubtitusi hidrogen, seperti dalam salah satu bentuk karet sintetis.
Anonim. 2008. Klor. http://www.chem-is-try.org[27 April 2010]
Edward. 1990. Klorin. Lonawarta [3: 43]. Ambon

Reaksi Millard

Reaksi antara protein dengan gula pereduksi yang dikenal dengan reaksi millard, juga merupakan penyebab utama terjadinya kerusakan protein selama pengolahan dan penyimpanan

http://winartosst.blogspot.com

reaksi millard terjadi antara gugus aldehid dari gula pereduksi dengan gugus amina dari asam amino terutama epsilon-amino-lisin dan alfa-amino asam amino N-terminal. Pada umumnya reaksi millard terjadi dalam dua tahapan, yairu tahap reaksi awal dan reaksi lanjutan. Pada tahap awal terjadi kondensasi antara gugus karbonil dari gula pereduksi dengan gugus amino bebas dari asam amino dalam rangkaian protein. Produk hasil kondensasi selanjutnya akan berubah menjadi basa Schiff karena kehilangan molekul air (H2O) dan akhirnya tersiklisasi oleh Amadori rearrangement membentuk senyawa 1-amino-1-deoksi-2-ketosa. Senyawa deoksi-ketosil atau senyawa Amadori yang terbentuk merupakan bentuk utama lisin yang terikat pada bahan pangan setelah terjadinya reaksi millard awal. Pada tahap ini secara visual bahan pangan masih berwarna seperti aslinya, belum berubah menjadi berwarna coklat, namun demikian lisin dalam protein bahan pangan tersebut sudah tidak tersedia lagi secara biologis (bioavailabilitasnya menurun).

Pencoklatan pada buah ada dua macam, yaitu pencoklatan enzimatik (enzymatic browning) dan pencoklatan non-enzimatik (non-enzymatic browning). Pada buah dan sayuran utuh, sel-selnya masih utuh, sehingga substrat yang terdiri atas senyawa-senyawa fenol terpisah dari enzim phenolase sehingga tidak terjadi reaksi browning. Apabila sel pecah akibat terjatuh/memar atau terpotong (pengupasan, pengirisan) substrat dan enzim akan bertemu pada keadaan aerob (terdapat oksigen) sehingga terjadi reaksi browning enzimatis.

Enzim ini mengoksidasi senyawa fenol yang terdapat secara alami menjadi kuinon. Kemudian mengalami polimerisasi menjadi bermacam-macam produk berwarna coklat, merah, atau hitam, seperti dapat dilihat pada permukaan potongan buah yang dibiarkan terkena udara. Ada beberapa cara pencegahan pencokelatan enzimatik: 1) Inaktivasi polifenoloksidase dengan panas, menurunkan pH, atau penambahan inhibitor nontoksik, 2) Pengendalian oksigen dengan perlakuan vakum, penggantian dengan gas nitrogen atau dengan gas nitrogen atau dengan enzim yang menggunakan oksigen (glukosa oksidase), 3) penambahan agensia reduktor seperti asam askorbat yang mereduksi kuinon menjadi asam fenolat tidak berwarna. 4) menambahkan senyawa-senyawa anti pencoklatan, antara lain senyawa-senyawa sulfit, asam-asam organik dan dengan blanching/blansir.

Pencoklatan nonenzimatik (non-enzymatic browning) sering dijumpai dalam produk bahan olahan. Browning non enzimatik terutama disebabkan reaksi Maillard, yaitu reaksi yang terjadi antara gula pereduksi (melalui sisi keton dan aldehid yang reaktif) dengan asam-amino (melalui gugus amina). Reaksi ini banyak terjadi selama penyimpana bahan Reaksi ini dapat menghasilkan warna dan cita rasa yang diinginkan dalam bahan makanan, misalnya pada produk hasil pemanggangan seperti roti dan lain-lainnya. Namun demikian, reaksi ini dapat pula mempunyai pengaruh merugikan, yaitu menurunkan nilai biologis protein terutama untuk asam amino lisin, dapat menghasilkan cita rasa dan tekstur yang tidak disukai. http://smk3ae.wordpress.com